taman hati

Jika dulu – beberapa tahun yang lalu, mungkin sewindu – aku begitu mencintai seorang pria dan khawatir jika aku tidak dapat hidup tanpanya, nyatanya, saat ini aku bisa. Aku tetap bisa melakukan kegiatanku tanpa adanya dia di hidupku. Toh, saat aku masih dengannya pun, aku tetap melakukan apa-apa sendiri. Sudah bukan pemandangan dan realita yang langka jika aku ke mana-mana sendiri, melakukan apa-apa sendiri. Bahkan, sebelum kumenemukan priaku yang sekarang, aku juga masih bisa melakukan apa-apa sendiri, ke mana-mana sendiri. Terkadang, manusia terlalu khawatir mengenai apa yang akan terjadi ke depannya. Dan tidak jarang, kekhawatiran itu tercipta dari pikiran dan perasaan manusi itu sendiri. Aku rasa, manusia adalah penulis skenario dramatis terbaik. Haha…

Setelah sekian lama libur dari dunia rangkai kata, aku berhasil mengumpulkan ide, mood, dan tentunya sederetan kata yang harus aku susun agar menjadi bacaan. Nyaris tidak memiliki rasa percaya diri lagi untuk menulis. Hmm, mungkin rasa percaya diri saya perlahan terikikis juga.

Tulisan ini adalah tulisan tentang hati. Tentang taman hati yang awalnya – kukira tak akan bisa hidup lagi untuk ditumbuhi benih. Mungkin karena aku berpikir kalau tanah hati ini sudah tandus, kering, dan masih meninggalkan guguran kelopak bunga yang kian membusuk. Rupanya taman ini sangat kotor. Ah, membayangkan saja aku sudah mual.

Sewindu. Bukan waktu yang singkat untukku. Cukup lama di taman ini ditumbuhi bunga yang sama, tak pernah kuganti benih yang kubiarkan tumbuh di taman hati ini. Selama itu juga, kucoba berbagai macam cara agar bunga yang sudah tumbuh di taman ini selalu segar dan hidup, rupanya pupuk yang kuberikan sudah tidak manjur lagi. Mungkin bunga itu bosan dengan jenis pupuk yang berikan ini dan lama-lama mati.

Sedih hati ini karena bunga yang sudah lama kurawat dan kujaga mati. Kupikir-pikir, mungkin karena aku tidak pandai merawat dan menjaganya. Kupikir-pikir lagi karena aku terlalu memaksakan pupuk yang sebenarnya sudah tidak cocok untuk bunga itu. Ah… rupanya memang iya. Bunga itu harus berganti pupuk dan dia mendapatkan pupuk itu untuk bisa hidup lebih lagi. Tapi ternyata, bunga itu tidak hanya cukup dengan satu pupuk. Bunga itu menginginkan pupuk dariku dan pupuk barunya. Ah… begitu rupanya.

Tanpa terasa, kubiasakan untuk menikmati hari-hariku dengan taman yang sangat kotor dan tanpa bunga. Tidak terlalu lama, kudapatkan benih yang sekiranya bisa untuk tumbuh di tamanku lagi. Benih yang berbeda tentunya.

Tidak tanpa ragu kucoba untuk menimang-nimang benih itu untuk kutanam atau tidak. Kupahami benar secara perlahan, apakah benih yang kutemui itu adalah benih yang baik dan cocok untuk tumbuh di taman ini atau tidak. Hah… manusia terkadang terlalu banyak dan terlalu lama menimang sesuatu. Hingga akhirnya, tanpa disadari, kucoba untuk kutanam benih itu agar tumbuh dengan baik di taman ini. Hampir 6 bulan kurawat dan kujaga bunga yang mulai tumbuh itu – masih kuncup, belum mekar, pun belum wangi.

Aku sedang belajar untuk merawat dan menjaga bunga yang kutanam. Ini bunga jenis baru, sekali lagi kukatakan. Aku masih harus banyak belajar untuk memahaminya. Semoga aku tidak jera untuk dengan sabar merawat dan menjaga bunga itu.

Terima kasih pada semesta.



**ini tulisan sudah lama, tapi baru bisa diunggah karena terlalu sibuk menghabiskan waktu luang dengan melamun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

swastamita bersamamu